The Narratives
of Indonesian
Dancescape

IN / ENG

Reba Aryadi / Depok – Jawa Barat

“Lintas TubuhQ”

“Lintas TubuhQ”

Oleh Reba Aryadi

Depok – Jawa Barat

Intro

Sebelum anda memulai membaca, saya ingin memberitahukan bahwa ini bukan tulisan tentang masalah yang sudah selesai dalam hidup saya. Di tulisan ini, anda akan membaca catatan tentang pembelajaran yang sedang berlangsung dengan harapan bahwa akhir dari tulisan ini bukanlah sebuah penyelesaian, tapi hanya salah satu persinggahan dalam sebuah penyeberangan yang masih berlangsung.

Ada jembatan di dekat rumah saya. Cukup keluar dari pagar rumah saya, belok ke kiri dan mengikuti jalan hingga keluar di jalan besar, kemudian belok kanan melawan arus kendaraan, dan sampailah di jembatan tersebut. Jembatan ini berada di atas salah satu jalan tol terbaru di daerah Jakarta yang resmi dibuka pada Oktober 2018 lalu. Di seberang jembatan, ada banyak toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan dasar hidup rumah tangga seperti gas dan galon air. Saya sendiri suka membeli es krim dan keripik kentang melewati jembatan ini.

Saya suka jembatan ini. Jembatan ini memberi akses yang lebih mudah untuk menyeberangi jalan tol sehingga saya bisa terbebas dari laju kendaraan. Selain itu, tingginya jembatan ini menjadikan olahraga pagi saya terasa lebih enak karena hembusan angin kencang akibat mobil-mobil yang melaju di bawahnya. Namun penyeberangan saya sering kali terasa tidak nyaman. Bukan karena jembatan ini jarang dilewati orang. Entah mengapa setiap saya ada di atasnya, saya merasa takut. Walaupun sisi-sisi jembatan ini dipagari teralis besi, namun tetap saja ketika saya berjalan diantaranya, saya merasa takut. 

Pertanyaannya, kenapa?

 

Tentang Jembatan dan Lautan Tanah Merah

Secara geografis jembatan ini berada di daerah Andara, kawasan perbatasan antara Jakarta Selatan dan Depok. Andara dulunya dikenal sebagai daerah pemukiman padat penduduk dengan segala keberagamannya. Keberagaman ini bisa dilihat dari bentuk rumah yang bermacam-macam. Kita bisa dengan mudah melihat kompleks perumahan mewah diantara rumah-rumah kecil. Kita juga bisa menemukan warung rokok di sebelah rumah dengan tujuh belas pilarnya seperti istana megah di Yunani. Namun jalanan di daerah ini tergolong sempit dan gelap. Jalan-jalannya kecil dan hanya bisa dilewati mobil dari satu arah saja. 

Kami mulai pindah ke Andara semenjak tahun 2015 dan akhirnya benar-benar menetap di tahun 2017. Walaupun kami baru pindah, namun rumah yang kami tempati ini sudah berdiri lebih dari satu dekade dengan penghuni yang berbeda-beda. Begitu juga di kawasan tempat saya tinggal. Baik rumah dan penghuninya berganti dengan cepat. Saya ingat ketika pindah ke kawasan ini, kami disambut dengan proyek pembangunan jalan tol yang menghubungkan Jakarta dan Jawa Barat. Sejak saat itu, perubahan besar terjadi. Saya melihat sendiri, bagaimana pembangunan ini merubah lanskap permukiman di kawasan tempat saya tinggal karena menembus daerah perumahan. Proyek ini merubah perkampungan sesak menjadi hamparan tanah merah yang membentang dari ujung cakrawala utara hingga selatan. Saya ingat setiap kali saya berjalan kaki, saya dihadapkan dengan sebuah lautan tanah merah yang hampa akan kehidupan. Tidak ada lampu penerangan dan tidak ada siapapun. Saking sepinya, saya seringkali ditolak ojek online karena tukang ojeknya takut dibegal saat melintasi lautan ini. Dari cerita dan kondisi itulah saya jadi takut dengan lautan tanah merah ini.

Tiga tahun akhirnya berlalu. Tepat di tahun 2018 proyek jalan tol ini selesai. Lautan tanah merah berubah menjadi jalan tol. Panorama gersang menghilang dan berganti dengan aspal beton yang dilalui pengembara-pengembara berkecepatan tinggi dengan kendaraannya. Kawasan yang sepi karena pembangunan mulai dihidupkan lagi oleh masyarakat sekitar. Penghuni baru pun mulai datang karena tertarik dengan kelajuan perubahan ini. Andara yang dulunya saya kenali sebagai lautan tanah merah yang sepi akhirnya kembali hidup.

Perlahan, pemukiman yang dulunya padat berubah menjadi lebih longgar. Rumah-rumah penduduk pun beralih fungsi menjadi toko. Usaha-usaha kecil mulai berkembang dan mushola kompleks berubah menjadi masjid singgah. Banyak juga yang menghabiskan waktunya di atas jembatan untuk berlari pagi atau sekedar menatap matahari senja. Terakhir kali saya berjalan di sekitar jalan tol ini, saya melihat rambut-rambut yang dicat warnanya dan sesekali saya juga melihat gerak-isyarat yang saya kenali sebagai queer. Keramaian itu seolah memberikan ruang untuk memperlihatkan banyak ekspresi diri yang berbeda. 

Namun anehnya ingatan tentang ketakutan saya pada lautan tanah merah masih belum hilang meski kawasan ini sudah lebih hidup. Seolah-olah saya masih terus terjembatani dengan ingatan saya mengenai lautan tanah merah yang sepi dan gelap dan membawa saya ke rasa takut yang lain, terutama rasa takut dengan identitas gender saya. Mungkin sudah waktunya saya menelusuri kembali jembatan-jembatan ini lagi untuk melihat asalnya ketakutan ini.

 

Tentang Lokasi, Kepercayaan, dan Sela Untuk Berekspresi

Jembatan saya yang pertama mengantarkan saya pada ingatan dan pengalaman ketika sekolah di Melbourne. Di sana saya mengalami langsung bentuk-bentuk kekerasan berbasis orientasi seksual. Ingatan yang paling membekas adalah ketika saya berjalan kaki di malam hari. Tiba-tiba saja saya diteriaki “FAGGOT!” yang berarti bencong dari sebuah mobil yang sedang melintas. Saya juga mendapatkan kata kata kasar berbau rasis dari pria-pria yang lebih tua di aplikasi kencan online Grindr. Rambut teman saya dijambak dan kami diteriaki oleh seorang perempuan pada saat acara kelulusan saya hanya karena kami terlihat berbeda. Tidak ada polisi atau tindakan pengamanan selama insiden-insiden tidak menyenangkan tersebut. Setelah semua insiden ini terjadi, saya masih tetap berjalan kaki kemana-kemana. Saya tetap merasa aman dan nyaman.

Tapi kenapa saya tidak merasakan hal yang sama ketika di Depok?

Saya pelan-pelan berusaha memahami lagi jembatan ingatan saya ini. Apakah mungkin karena di Melbourne, bersama dengan segala serangan yang saya terima, saya juga melihat bentuk ekspresi yang jelas sehingga saya tidak merasa sepi dan sendiri? Saya melihat bagaimana para queer memperlihatkan bentuk ekspresi gender mereka yang lebih berani. Para pasangan queer berpegangan tangan sambil berjalan di tengah kota. Panggung-panggung juga tersedia untuk para queer membicarakan isu-isu gender secara langsung dan terbuka. Dukungan dan kesempatan yang didapat para queer ini menjembatani saya untuk lebih percaya diri mengekspresikan gender saya di Melbourne.

Tapi kenapa saya tidak merasakan hal yang sama ketika di Depok?

Semua yang saya alami tentang Depok tidak membuat saya percaya akan kemungkinan berekspresi seperti pengalaman saya ketika di Melbourne. Saya selalu terjembatani dengan berita-berita kurang menyenangkan yang saya dengar di media massa tentang bagaimana para queer ditindak. Mulai dari kasus penggerebekan sepihak kepada pasangan queer di rumahnya hingga ekspresi queer yang selalu ditekan oleh organisasi massa yang berdalih dengan alasan moral. Maka saya sulit percaya untuk mengekspresikan gender saya di sini, sama halnya yang saya rasakan ketika menyeberangi jembatan di jalan tol ini. Di batin, saya masih merasa belum aman. 

 

Tentang Reba Yang Harus Menyeberang

Jembatan kedua terhubung dengan ingatan saya pada tanggal 21 Mei 2019 di sore hari menjelang demonstrasi besar-besaran menentang hasil Pemilu yang berujung konflik. Ketika itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Saya harus melewati kerumunan massa yang sudah mulai terbentuk di area Bundaran HI. Ojek online sudah tidak masuk jalan Thamrin sehingga saya harus berjalan kaki sampai ke stasiun MRT yang terletak di dekat Bundaran HI. Ketika saya menyebrang untuk sampai di stasiun MRT, saya yang kala itu mengenakan sepatu hak tinggi dan celana kulot tipis, berpapasan dengan segerombolan pria yang memakai gamis putih di pinggir kompleks Sarinah. Perasaan takut diserang pun muncul. Saya berdoa dan menyeberang secepat mungkin berusaha agar tidak diserang. Ini merupakan titik terdekat saya dengan orang-orang yang sering saya dengar sebagai kelompok intoleran oleh media massa.

Saat itu ingatan saya ke mana-mana; ke pemberitaan media tentang kasus queer, ke cerita teman-teman saya tentang bagaimana mereka diperlakukan hanya karena mereka berbeda dengan keyakinan mayoritas masyarakat dan akhirnya ke diri saya sendiri yang sepertinya juga sedikit berbeda dengan apa yang dikehendaki masyarakat kebanyakan.

Bentuk Reba sedikit lebih besar dari ideal badan fit. 

Ukuran bokong Reba sedikit lebih ranum dari ideal masyarakat yang rata. 

Ekspresi Reba sedikit lebih feminin dari ideal laki-laki. 

Pilihan baju Reba sedikit lebih cantik dari ideal baju pria. 

Sikap sehari-hari Reba sedikit lebih luwes dari ideal maskulin.

Pilihan sepatu Reba sedikit lebih tinggi dan lancip haknya dari ideal sepatu pria.

Pilihan identitas Reba sedikit lebih besar untuk bisa masuk ke ideal dua kotak gender. 

Saya kemudian melihat diri saya dan ekspresi gender yang saya wakili melalui pakaian yang saya kenakan di hari itu. Fakta bahwa saya bangga dengan apa yang saya kenakan justru menjembatani saya untuk takut menjadi jujur di tengah para demonstran ini. Terlebih karena saya berkeyakinan bahwa hal itu dapat menjadi sumber penyerangan kelompok demonstran tersebut ke diri saya. Entah kenapa saya bisa seyakin ini. Namun, pada kenyataannya saya sampai stasiun MRT dengan aman. Prasangka yang saya pikirkan sebelumnya tidak terjadi. Sepertinya reaksi ketakutan saya berlebihan. 

Mungkin saja ketakutan-ketakutan tadi berasal dari pengalaman yang saya pelajari sejak kecil. Di sekolah dasar, saya diajari tentang variasi hukuman neraka untuk tindakan-tindakan yang telah saya lakukan sekarang. Dari berbagai liputan berita, saya belajar tentang kasus-kasus penyerangan sepihak oleh kelompok massa terhadap individu dengan identitas seksual dan gender berbeda seperti saya. Dari pelajaran sejarah di Sekolah Menengah, saya jadi tahu tentang kepentingan politik yang mampu mempersenjatai kelompok massa untuk menyerang kelompok-kelompok minoritas dimana salah satunya adalah kelompok queer. Dalam masa perkuliahan, saya membaca tentang kelonggaran hukum Republik Indonesia untuk melindungi masyarakatnya dengan ekspresi gender dan orientasi seksual yang berbeda. Selama di Melbourne, saya juga tidak pernah mendengar berita baik yang disampaikan oleh media massa baik cetak maupun digital tentang bagaimana orang-orang seperti saya diperlakukan di Indonesia. Semua pelajaran ini menjadi jembatan-jembatan yang menghubungkan dengan cepat semua ketakutan kecil saya tadi di tengah para demonstran. 

Mungkin sudah saatnya saya belajar untuk menyeberangi jembatan ketakutan ini.

 

Tentang Tari dalam Tubuh yang Takut

Disinilah tari datang. 

Tari datang dalam pengenalan saya dengan rumah di Andara. Saat saya masih merasa kebingungan sekembalinya saya ke Indonesia, tari selalu ada sebagai jembatan saya untuk beradaptasi lagi. Saat saya pertama kali berjalan kaki keliling rumah setelah pulang, saya melihat jembatan diatas jalan tol dan langsung berkata, “gue mau nari diatas situ.” Cetusan itu, tanpa saya sadari memulai perjalanan saya mengenai jembatan ketakutan yang sekarang sedang anda baca sekarang ini. 

Maka, tari sekarang menjadi medium penyeberangan saya untuk merasa aman. Setiap saya melewati jembatan, saya berusaha lebih peka dengan badan saya yang dimana setiap langkahnya penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. Saya mencoba melepaskan ketakutan-ketakutan ini secara fisik. Melonggarkan bahu dan pinggang, melemaskan tulang punggung, dan meringankan kepalan tangan. Saya berjalan bolak-balik di jembatan ini, merasakan bagaimana asumsi awal mengenai gestur dan postur hipermaskulin bisa secara perlahan dilepas sambil mempertanyakan kembali asumsi mengenai tubuh ideal saya dalam kondisi penyeberangan ini.

Tari mengingatkan saya akan kenyamanan dengan badan saya sendiri. Jika saya bisa percaya diri dalam ekspresi kejujuran saya saat menari, maka saya bisa bawa kepercayaan diri ini juga dalam kehidupan sehari-hari, dengan perlahan. 

 

Tentang Belajar Untuk Melepaskan Pelajaran

Hingga penulisan ini berlangsung, saya belum sampai tahap dimana saya bisa menari dengan bebas dan lepas di atas jembatan tersebut. Bagian bawah badan masih susah untuk dilonggarkan. Jembatan mental juga lebih kokoh dari jembatan fisik. Ia masih lebih kencang ketimbang angin yang datang dari kendaraan yang melintasi jalan tol. Masih banyak ketakutan yang lalu lalang menyeberang di dalam kepala saya sebagai bentuk pertahanan diri, yang saya pegang atas nama kewaspadaan. Tapi semakin sering saya berjalan, saya mulai bisa melepaskan berbagai ketakutan yang saya pegang. Saya juga menyadari beberapa hal. Tatapan orang kepada saya saat menyeberang bukan berarti mereka tidak suka akan keberadaan saya. Kami hanya sedang berbagi ruang jembatan untuk melintas bersama. Semakin banyak saya melihat masyarakat Andara yang tinggal di sekitar jembatan, semakin saya menyadari bahwa saya tidak harus melepas jalan hidup saya sendiri. Mungkin, beberapa ketakutan yang selalu saya rasakan sebelumnya sudah bukan bagian dari kewaspadaan, tapi paranoia. 

Saya juga belajar bahwa terkadang harus ada representasi ekspresi individu yang berbeda agar masyarakat disekitarnya bisa belajar untuk mengenal dan menghormati segala perbedaan. Keberadaan saya dalam masyarakat tidak harus berada dalam posisi sebagai advokat bagi orang-orang yang berbeda. Hanya dengan keberadaan saya yang berbeda, mungkin saya sudah bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan perbedaan-perbedaan itu. Hingga kini, masih ada perasaan saya tidak aman disini, tapi kalau bukan saya sendiri yang memperbaiki rumah saya, siapa lagi?

 

Outro

Maka, setelah ini, saya akan berangkat kembali menyeberang jembatan. Untuk mengenalkan diri saya di daerah yang masih sedikit asing dengan saya. Untuk berdialog dengan paranoia, pemahaman, dan persepsi tentang identitas gender saya. Untuk menghentikan lintasan ketakutan dan meruntuhkan penyeberangan dalam diri saya yang tidak lagi diperlukan. Untuk membuat karya tari baru dalam karya arsitektur publik berbentuk jembatan diatas jalan tol. Untuk menjembatani Andara di masa depan yang lebih aman dan nyaman untuk semua penduduknya, apapun identitas mereka. Untuk hidup saya. Dan untuk membeli es krim dan keripik kentang.

 

Ada yang mau nitip?

 

The Narratives
of Indonesian
Dancescape